Dalam Masa

Loading...

Jumat, 05 April 2013

Tafsir Surah Ayat-ayat Tentang Keadilan



A. Makna Keadilan


Keadilan adalah kata jadian dari kata "adil" yang terambil dari bahasa Arab " 'adl". Kamus-kamus bahasa Arab menginformasikan bahwa kata ini pada mulanya berarti "sama". Persamaan tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat imaterial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "adil" diartikan: (1) tidak berat sebelah/tidak memihak, (2) berpihak kepada kebenaran, dan (3) sepatutnya/tidak sewenang-wenang.
"Persamaan" yang merupakan makna asal kata "adil" itulah yang menjadikan pelakunya "tidak berpihak", dan pada dasarnya pula seorang yang adil "berpihak kepada yang benar" karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu "yang patut" lagi "tidak sewenang-wenang".
 Keadilan diungkapkan oleh Al-Quran antara lain dengan kata-kata al-'adl, al-qisth, al-mizan, dan dengan menafikan kezaliman, walaupun pengertian keadilan tidak selalu menjadi antonim kezaliman. 'Adl, yang berarti "sama", memberi kesan adanya dua pihak atau lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi "persamaan".
Al-Qur`an menggunakan term (al-`Adl) dan (al-Qisht) untuk pengertian keadilan. Dilihat dari akar katanya, term al-`Adl terdiri dari huruf `ain, dal dan lam. Maksud yang terkandung didalamnya ada dua macam, yaitu lurus dan bengkok. Makna ini bertolak belakang antara satu dan lainnya. Intinya ialah persamaan atau al-musawah.[1]




Sementara akar kata al-Qisht terdiri dari tiga huruf yaitu qaf, sin dan tha. Makna yang terkandung dalam struktur ketiga huruf di atas ada tiga macam yaitu keadilan atau al-Qisht, kecenderungan atau al-Qasht dan bengkok atau al-Qasath. Dari pengertian di atas dapat dimunculkan lagi dua makna yang lain yaitu bagian al-Nashib dan neraca atau al-Qisthas.
Term al-Qisht dapat diartikan sebagai memperoleh bagian dan porsi yang adil. Kemudian term al-Qasht dapat diartikan sebagai mengambil porsi orang lain atau curang. Sedangkan term al-Iqsath dapat diartikan sebagai memberikan hak dan porsi seseorang kepada yang bersangkutan. Jadi tampaknya term al-Iqsath ini mengarah kepada pengertian keadilan dalam makna proposional.
Adil menurut salah seorang tokoh dibagi menjadi 2 yakni, Adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
Adil perseorangan adalah tindakan memihak kepada yang mempunyai hak, bila seseorang mengambil haknya tanpa melewati batas, atau memberikan hak orang lain tanpa menguranginya itulah yang dinamakan tidak adil.
Adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya tindakan hakim yang menghukum orang-orang jahat atau orang-orang yang bersengketa sepanjang neraca keadilan. Jika hakim menegakan neraca keadilanya dengan lurus dikatakanlah dia hakim yang adil dan jika dia berat sebelah maka dipandanglah dia zalim. Pemerintah dipandang adil jika dia mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata, baik di kota-kota maupun di desa-desa.

B. Tafsir Surah Al-Hadid ayat 25 dan Surah As-Syura ayat 17

Keadilan dalam Islam selalu mendapatkan posisi yang sangat penting. Terbukti dengan terdapat tiga kalimat yang paling masyhur untuk membahasakan keadilan dalam al-Quran dan ini menunjukan bahwa Islam memang telah memiliki sebuah konsep keadilan yang benar-benar sempurna, yang mencakupi seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dalam lingkup personal, tetapi juga dalam lingkup suatu kesatuan sosial yang utuh. Dan ini lebih direpresentasikan oleh kata qisthi, ketimbang ‘adlu, karena kata qisthi ini lebih berbicara dalam hal-hal yang dzahir, dalam artian penilaiannya dapat dipahami dengan lebih mudah, berbeda halnya dengan kata ‘adlu, yang lebih sering dinisbahkan terhadap hukum syara’, dalam artian suatu konstruk adil dalam wilayah ini terkadang dianggap oleh manusia sebagai hal yang tidak adil, meskipun pada hakikatnya hal itu memang benar-benar adil, namun hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang dalam pemahamannya, jadi bisa dikatakan “dzahir bagi sebagian, dan batin bagi sebagian”. Sedangkan perkara-perkara sosial itu biasanya bisa lebih mudah dipahami.

Secara padangan sederhana, kata adil selalu disematkan pada equality atau kesetaraan.[2] Padahal kata adil itu sendiri memiliki sebuah ruangan yang berbeda dengan kesamaan atau kesetaraan tadi, karena meski bagaimanapun adil memiliki pengertian yang abstrak, dalam artian kondisi adil ini sangat kondisional –bukan relatif-, karena terdapat sebuah kondisi atau hukum yang tidak termaktub tetapi tetap menjadi pegangan dalam suatu masyarakat yang kondisi akalnya masih “sehat” akan sebuah prinsip bahwa 1=1 itu tidaklah adil, misalnya uang seribu untuk anak TK yang letak sekolahnya tepat di depan rumah, dengan uang seribu untuk anak SD yang letak sekolahnya berjarak 50 KM dari rumahnya. Dan ini jelas diakui oleh tradisi dalam masyarakat. Maka dari itu, adil bukanlah setara, tetapi tepat pada tempatnya. Bukankah adil itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, sebagai vis a vis dari kelaliman (dzalim)?.

Allah Swt. berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia dapat menegakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hadid [57]: 25)

Ayat di atas merupakan ayat yang disebut-sebut sebagai ayat yang paling representatif ketika berbicara tentang tema keadilan sosial ini. Hal ini ditunjukan dengan penyandaran kata al-Nas dengan bil qisthi, ini tidak terjadi pada tempat lainnya, kecuali dalam QS. Hud: 85, adapun ada penyandaran lain terhadap kata bil qisthi ini dengan subjek yang umum, seperti penyandarannya kepada dlomir “hum” (mereka), seperti dalam QS. Yunus: 54, namun masih tidak mewakili tema keadilan sosial ini. Maka dari itu dalam makalah ini penulis lebih memfokuskan terhadap penafsiran dari ayat ini sebagai inti pemaparan mengenai masalah keadilan sosial ini.
Ayat di atas menyebutkan bahwa beban untuk menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat itu merupakan tugas yang dibebankan kepada para utusan Allah, termasuk Muhammad Saw., sang nabi akhir zaman. “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca” dengan tujuan “supaya manusia dapat menegakan keadilan”. Abu al-Sa’ud menambahkan, yaitu supaya tegak dengannya sebuah sistem politik yang adil, dan mencegah terjadinya kelaliman. Juga membentuk suatu kehidupan manusia secara menyeluruh yang berasaskan keadilan dan neraca ke-ma’ruf-an (kebaikan yang dikenal). Selain itu, ayat di atas juga mengungkapkan kalimat “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” sebagai landasan akan adanya suatu kekuasaan hukum untuk memberikan sanksi kepada mereka yang melanggar aturan dan mengkhianati keadilan.[3]
Islam tidak hanya mengurusi satu aspek saja dari kehidupan manusia, akan tetapi semua aspek kehidupan manusia, ini menunjukan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Bukan hanya adil dalam masalah moral dan spiritualitas saja, tetapi benar-benar meliputi seluruh dimensi kehidupan umat manusia. Dan itu sudah bukan hal yang bisa ditawar-tawar lagi, hal itu adalah niscaya adanya. Mencakupi aspek ekonomi, etika, hukum, politik, dan lain sebagainya. Karena hanya dengan adanya suatu sinergitas antara seluruh aspek tersebutlah, jaminan atas suatu stabilitas sosial itu akan terjaga dan lestari.


Dalam Tafsir Al Azhar menerangkat bahwa ayat 25 ini memberitakan keterangan yang jelas tentang kedatangan Rasul-rasul atau utusan Tuhan ke dunia. Dalam ayat ini kita kaum Muslimin sudah sudah mendapat keterangan bahwa Rasul itu bukan satu, melainkan banyak, sebab itu disebut Rasul-rasul. Kedatangan beliau-beliau ke dunia diutus Tuhan untuk membawakan penjelasan bagi manusia untuk keselamatan hidup mereka dunia dan akhirat. Manusia bias saja memandang dengan akalnya bahwa memang ada Maha Kuasa yang mencipta alam, tetapi kalau tidak ada Rasul dari Tuhan sendiri, akan kacau balaulah pengertian manusia tentang Tuhan. Bersama Rasul-Rasul itu selain diberi tugas memberikan penjelasan berbagai rupa, ada juga yang dengan mu’jizat, dan Tuhan juga menurunkan kepada mereka kitab-kitab.[4]
Setelah Tuhan menurunkan kitab kepada Rasul-rasul, Tuhan pun sekaligus menurunkan kepada mereka al-Mizaan yaitu alat penimbang. Tentu saja dalam ayat ini yang dimaksud dengan alat penimbang bukanlah semacam neraca yang dikirim dari surga atau alam gaib, melainkan kearifbijaksanaan Nabi-nabi itu sendiri. Sebab sesudah itu nyata sekali Tuhan bersabda ”Supaya berdirilah manusia dengan keadilan”, jangan berbuat sewenang-wenang saja dalam menjatuhkan suatu hokum “Dan Kami turunkan besi didalamnya ada kekuatan yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia”
Di dalam kesimpulan ayat ini kita sudah dapat memahamkan bahwa pada hakikatnya, datangnya Rasul-rasul itu diutus Tuhan, selain daripada diberi wahyu dengan kitab-kitab suci, mereka juga diberi kewajiban memberikan pertimbangan, tegasnya kebijaksanaan dalam memimpin ummatnya. Sesudah itu dijelaskan lagi bahwa Tuhan pun bukan saja menurunkan kitab atau pertimbangan untuk menegakkan keadilan bahkan juga diberi besi. Dalam ayat ini ditegaskan kegunaan besi itu. Pertama karena didalamnya ada persenjataan. Maka dapat difahamkan bahwa kedatangan rasul-rasul itu bukan saja hendak mengejar-ngejar orang saja agar tunduk kepada tuhan, tetapi wajib patuh, wajib tunduk. Barang siapa yang melawan undang-undang Tuhan bias dihukum. Besi adalah untuk menguatkan hokum.



اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”As-syura :17[5]

Allahlah yang menurunkan Kitab) Alquran (dengan membawa kebenaran) lafal Bil Haqqi berta'alluq kepada lafal Anzala (dan neraca), keadilan. (Dan tahukah kamu) apakah kamu tahu (boleh jadi kiamat itu) yakni kedatangannya (sudah dekat?) lafal La'alla amalnya di-ta'alluq-kan kepada Fi'il dan lafal-lafal sesudahnya berkedudukan sebagai dua Maf'ul.
Istilah keadilan pada umumnya juga berkonotasi dengan penetapan keputusan hukum atau kebijaksanaan. Adapun keadilan dalam Islam meliputi berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang dan sistem hukumnya. Dengan demikian konsep keadilan meliputi keadilan dalam berbagai hubungan, baik menyangkut hubungan dalam intern hubungan pribadi manusia, hubungan antara individu dengan hakim dan yang bepekara serta berbagai pihak yang terkait. Oleh karena itu menurut Muslehuddin, keadilan mutlak hanya terdapat pada syari’ah yang didasarkan pada wahyu, yang didalamnya ia memiliki prinsip-prinsip keadilan yang abadi. Dengan demikian seseoarang yang hidup menurut hukum Tuhan harus berbuat adil, tidak saja pada diri sendiri tetapi juga pada keluarga dan alam sekitarnya. Allah berfirman dalam surat al-Syura (42);17 (Allah menurunkan kitab dengan membawa kebenaran dan neraca keadilan. Wahyu, sesungguhnya merupakan neraca untuk menimbang semua persoalan moral dengan standar keadilannya yang mutlak yang merupakan sumber yang abdi bagi keadilan.[6]





Perintah berlaku adil ditunjukan pada setiap orang tanpa padang bulu. Perkataan yang benar musti disampaikan apa adanya walaupun akan merugikan kerabat sendiri. Meskipun Allah memerintahkan manusia untuk berlaku adil dalam segala hal, tetapi keharusan berlaku adil terutama ditujukan kepada mereka yang mempunyai kekuasaan. Keadilan yang ditegakkan adalah keadilan mutlak, yang dapat dipedomani pada apa yang dilakukan oleh Rosul ketika  mengadili Fatimah binti Aswad, wanita bangsawan dari kabilah makhsum yang kedapatan mencuri. Usamah ibn Zaid datang supaya fatimah diampunkan, maka maralah beliau.
Allah memerintahkan para Rosul-Nya untuk melakukan tiga perintah yang dituujukan untuk menegakkan keadilan dan menunjukan kepada seluruh umat manusia agar menuju jalan penunjuk keselamatan. Firman Allah dalam Surat al-Hadid (57) ayat 25,: yang artinya :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rosul-rosul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan itu”.

Ada beberapa hal disebutkan dalam kandungan ayat di atas. Tiga hal yang dimaksudkan adalah al-Kitab, timbangan dan kekuasaan. Allah memerintahkan kepada setiap orang agar berlaku adil dan siap saja yang melanggar perintah ini akan menghadapi sanksi hukuman-hukuman yang mengerikan.
 Prinsip persamaan (al-Musawah).
Prinsip ini mempunyai landasan yang kuat di dalam Al-qur’an dan sunnah Nabi, prinsip ini ditekankan oleh Islam, yang dibuktikan dengan menentang penindasan dan perbudakan atas manusia.Prinsip persamaan dan keadilan yang memperlakukan semua manusia sama di hadapan Allah, dan di hadapkan hukum dan pemerintahan. Tidak ada deskriminasi karena perbedaan bangsa, suku bangsa, jenis kelamin, agama dan kepercayaan adat istiadat dan sebagainya sebagaimana tersebut dalam Surat al-Hujarat ayat 13, yang artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seseorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”.
Islam menyamakan antara umat Islam sesama umat Islam dan antara mereka dengan umat yang lain yang mempunyai dzimmah. Nabi saw bersabda, yang artinya : “Tak ada keutamaan-keutamaan orang Arab dengan orang Ajam tak ada keutamaan bagi orang Ajam atas orang Arab melainkan dengan taqwa”.
Prinsip Musyawarah.
Prinsip musyawarah merupakan salah satu prisip hukum Islam yang penting, para ulama dapat mencapai kesepakatan mengetahui hukum suatu masalah, yang disebut (ijma’bayani) dan ijma’ itu merupakan salah satu sumber ilmu hukum islam yang penting. Musyawarah, merupakan salah satu sifat yang hendaknya ditanamkan pada diri sesiap orang yang beriman. Di dalam surat Ali lmran ayat 159 Allah berfirman, yang artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan lah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad mengadakan persetujuan, maka bertaqwalah kepada Allah”.[7]
Walhasil, dalam Al-Quran dapat ditemukan pembicaraan tentang keadilan, dari tauhid sampai keyakinan mengenai hari kebangkitan, dari nubuwwah (kenabian) hingga kepemimpinan, dan dari individu hingga masyarakat. Keadilan adalah syarat bagi terciptanya kesempurnaan pribadi, standar kesejahteraan masyarakat, dan sekaligus jalan terdekat menuju kebahagiaan ukhrawi.
Kata 'adl yang dalam berbagai bentuk terulang dua puluh delapan kali dalam Al-Quran, tidak satu pun yang dinisbatkan kepada Allah menjadi sifat-Nya. Di sisi lain, seperti dikemukakan di atas, beragam aspek dan objek keadilan telah dibicarakan oleh Al-Quran; pelakunya pun demikian. Keragaman tersebut mengakibatkan keragaman makna keadilan.


 Paling tidak ada empat makna keadilan yang dikemukakan oleh para pakar agama:
Pertama, adil dalam arti "sama"
 Anda dapat berkata bahwa si A adil, karena yang Anda maksud adalah bahwa dia memperlakukan sama atau tidak membedakan seseorang dengan yang lain. Tetapi harus digaris bawahi bahwa persamaan yang dimaksud adalah persamaan dalam hak.
Kedua, adil dalam arti "seimbang"
            Keseimbangan ditemukan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju satu tujuan tertentu, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok itu dapat bertahan dan berjalan memenuhi tujuan kehadirannya.
Ketiga, adil adalah "perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya"
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan "menempatkan sesuatu pada tempatnya" atau "memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat". Lawannya adalah "kezaliman", dalam arti pelanggaran terhadap hak-hak pihak lain. Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah lawannya. Sungguh merusak permainan (catur), jika menempatkan gajah di tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif. Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.
Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi
 Adil di sini berarti "memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu."
Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. KeadilanNya mengandung konsekuensi bahwa rahmat A h Swt. tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
Sering dinyatakan bahwa ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak dari A. Kaidah ini tidak berlaku untuk Allah Swt., karena Dia memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki sesuatu di sisi-Nya.


Kesimpulan

Keadilan adalah kata jadian dari kata "adil" yang terambil dari bahasa Arab " 'adl". Kamus-kamus bahasa Arab menginformasikan bahwa kata ini pada mulanya berarti "sama". Persamaan tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat imaterial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "adil" diartikan: (1) tidak berat sebelah/tidak memihak, (2) berpihak kepada kebenaran, dan (3) sepatutnya/tidak sewenang-wenang.
"Persamaan" yang merupakan makna asal kata "adil" itulah yang menjadikan pelakunya "tidak berpihak", dan pada dasarnya pula seorang yang adil "berpihak kepada yang benar" karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu "yang patut" lagi "tidak sewenang-wenang"

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia dapat menegakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hadid [57]: 25)

Ayat di atas merupakan ayat yang disebut-sebut sebagai ayat yang paling representatif ketika berbicara tentang tema keadilan sosial ini. Hal ini ditunjukan dengan penyandaran kata al-Nas dengan bil qisthi


DAFTAR PUSTAKA

Abi al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyya,  Mu`jam Maqayis al-Lughah, Juz V, t.tp : Dar al-Fikr, 1979.
Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008).
Afzalur Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam al-Quran. (Bandung: Mizania, 2007).
Prof. Dr. Hamka, Al Azhar juz 27. Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 2004.
Shihab, M Quraish, Tafsir Al-Misbah , (pesan, kesan dan keserasian al-Quran). Jakarta: Lentera Hati, 2002
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta: Departemen Agama RI, 1991
http:// prinsip-syariah.wordpress.com/2010/12/01/
Doi,A.Rahman I ..penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah (Syari’ah),Jakarta.Penerbit: PT Raja Grafindo Persada. 2002


[1] Abi al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyya,  Mu`jam Maqayis al-Lughah, Juz V, t.tp : Dar al-Fikr, 1979, hal. 246.
[2] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008) hlm. 12.

[3] Afzalur Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam al-Quran. (Bandung: Mizania, 2007) hlm. 228.
[4] Prof. Dr. Hamka, Al Azhar juz 27,hal. 302
[5] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta: Departemen Agama RI, 1991
[6] http:// prinsip-syariah.wordpress.com/2010/12/01/
[7] Doi,A.Rahman I ..penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah (Syari’ah),Jakarta.Penerbit: PT Raja Grafindo Persada. 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar